Jumat, 18 Maret 2011

RUANG PERSONAL

RUANG PERSONAL
Pengertian Ruang personal
Istilah personal space pertama kali digunakan oleh Katz pada tahun 1973 dan bukan merupakan sesuatu yang unik dalam istilah psikologi, karena istilah ini juga dipakai dalam bidang biologi, antropologi, dan arsitektur (Yusuf, 1991).
Masalah mengenai ruang personal ini berhubungan dengan batas-batas di sekeliling seseorang. Menurut Somrner (dalam Altman, 1975) ruang personal adalah daerah di sekeliling seseorang’ dengan batas-batas yang tidak jelas dirnana seseorang tidak boleh memasukinya. Goffman (dalam Altman, 1975) menggambarkan nmng personal sebagai jarak daerah di sekitar individu dimana jika dimasuki orang lain, menyebabkan ia merasa batasnya dilanggar, merasa tidak senang, dan kadang-kadang menarik diri.
Beberapa definisi ruang personal secara implisit berdasarkan hasil-hasil penelitian, antara lain:
Pertama, ruang personal adalah batas-batas yang tidak jelas antara seseorang : dengan orang lain.
Kedua, ruang personal sesungguhnya berdekatan dengan diri sendiri. 
Ketiga, pengaturan ruang personal mempakan proses dinamis yang memungkinkan diri kita keluar darinya sebagai suatu perubahan situasi.
Keempat, ketika seseorang melanggar ruang personal orang lain, makadapat berakibat kecemasan, stres, dan bahkanperkelahian.
Kelima, ruang personal berhubungan secara langsung dengan jarak-jarak antar manusia, walaupun ada tiga orientasi dari orang lain: berhadapan, saling membelakangi, dan searah.
Menurut Edward T. Hall
Seorang antropolog, bahwa dalam interaksi sosial terdapat empat zona spasial yang disebut Zona Interaksi Sosial meliputi : jarak intim, jarak personal, jarak sosial, dan jarak publik.
1. Jarak Intim
• Jarak yang dekat/akrab atau keakraban dengan jarak 0 – 18 inci.
• Pada jarak 0 – 6 inci, kontak fisik merupakan hal yang penting.
• Jarak yang diperuntukkan pada “intimate lovers”
• Menyenangkan ketika berinteraksi dengan orang lain yang dicintai, tidcak menyenangkan dalam situasi yang lain.
2. Jarak Pribadi• Karakteristik keregangan yang biasa dipakai individu satu sama lain.
• Jarak antara 1,5 – 4 kaki
• Fase dekat (1,5 – 2,5 kaki) dan fase jauh (2,5 – 4 kaki)
• Fase dekat : masih memungkinkan pertukaran sentuhan, bau, pandangan, dan isyarat – isyarat lainnya.
• Fase jauh : jarak dimana masing – masing orang dapat saling menyentuh dengan mengulurkan tangan. Komunikasi halus (fine grain communication) masih dapat diamati.
• Transisi antara kontak intim dengan tingkah laku umum yang agak formal.
3. Jarak Sosial• Jarak 4 – 12 kaki
• Jarak yang memungkinkan terjadinya kontak social yang umum, seperti hubungan bisnis.
• Fase dekat (4 – 7 kaki)
• Fase jauh (7 – 12 kaki)
4. Zona Publik• Jarak 12 – 25 kaki
• Isyarat – isyarat komunikasi sedikit
• Situasi formal atau pembicaraan umum / orang – orang yang berstatus lebih tinggi.


CONTOH KASUS RUANG PERSONAL
BERDASARKAN BEBERAPA FAKTOR:
Faktor situasional
             Situasi keadaan ruang akan sangat mempengaruhi keberadaan ruang personal. Sebagai contoh, ketika ada wanita yang sangat hobi mendengarkan lagu-lagu bertemakan cinta, suasana yang sering ditimbulkan wanita itu adalah kesan melankolis. Atau dengan kata lain lagu-lagu cinta mengubah karakter pria itu menjadi lebih “nge-pop”. Seperti kata garin nugroho anak-anak muda kita sudah terjangkit yang namanya “virus pop”. akibatnya kalau anak “pop” lagi malas bekerja mereka akan sangat hobi mengunjungi mal-mal atau mengikuti istilah mereka “cuci mata” sebagai tempat berteduh pikiran mereka. Trend-nya mal sebagai tempat berkumpulnya anak-anak muda, disiasati oleh para pengembang untuk membuat lebih banyak proyek pembangunan yang sifatnya konsumtif . Sehingga efeknya adalah keberadaan RTH (ruang tanah hijau ) yang menjadi berkurang atau menghilangkan “modus kebersamaan” . terlihat bahwa situasi ruang yang menyediakan berbagai macam fasilitas dan tidak terseleksi dengan baik, akan mempengaruhi keberadaan “modus kebersamaan” ke arah yang lebih global.
 Faktor perbedaan individual
            Perbedaan antar individu akan sangat menentukan ukuran ruang personal. Misalnya norma budaya/ sub-budaya, hal ini akan sangat penting dalam menjaga diri untuk bersosialisasi dan menemukan “modus kebersamaan”. Dalam penilitian (aielloo, 1087, hayduk, 1983; remland, jones, & brinkman, 1991). Hall (1966) mengemukakan, dalam budaya dengan “kontak” indera yang tinggi, di mana individu menggunakan ciuman dan sentuhan alat indera lainnya, orang seharusnya  berinteraksi dalam jarak yang lebih dekat. Hipotesis ini didukung oleh penelitian terhadap orang hispanik, perancis, yunani, dan arab yang menjaga jarak interaksi lebih dekat daripada orang amerika. Kesan kebersamaan akan terlihat pada budaya arab yang memperlakukan tamu sebagai raja. Kedekatan yang diraih antar-sesama personal dalam tingkat global juga sangat penting dalam mengusung suara perdamaian dunia. Seperi misalnya kenapa negara timur tengah yang sudah terbiasa dengan prinsip kedekatan personal, justru tidak memilih untuk saling bergabung dengan negara lain untuk melawan penjajahan yang dilakukan israel dan amerika terhadap palestina.
            Perilaku sehari-hari personal dalam menjalankan fungsi sosial, selayaknya dapat menjadi Penataan ruang yang kita pakai untuk bersosialisasi demi mencapai “modus kebersamaan.”
 Faktor fisikal ruangan
            Pada faktor fisikal ruangan akan berkaitan dengan pemilihan bahan material untuk ruang yang kita huni. Pada majalah konstruksi edisi no.368 menjelaskan pemilihan material bangunan, masalah terbesar dari perancangan bangunan properti, adalah penggunaan bahan-bahan seperti: batako, batu, dan beton sebagai dinding bangunan. Pada siang hari, ketika terkena sinar matahari, dinding yang terbuat dari beton, akan menyerap panas dari matahari. Panas ini, selanjutnya akan dikeluarkan kembali di malam hari. Pada daerah beriklim dingin seperti eropa dan amerika, hal tersebut akan memberikan efek positif, karena akan mengurangi penggunaan pemanas ruangan. Tetapi, di negara beriklim tropis seperti indonesia, hal tersebut justru akan sangat mengganggu. Karena, pelepasan udara oleh dinding akan menyebabkan rumah terasa lebih panas dan kering, dan banyak menyerap energi dalam pemakaian mesin pendingin.
            Efek global yang terjadi adalah memicu personal untuk memilih ruang dengan menggunakan mesin pendingin. Dan kalau hal ini menjadi tren, akan sangat memperparah pemanasan global di dunia. Atau dengan kata lain menghilangkan “modus kebersamaan”.
Berkorelasi
            “modus kebersamaan” yang lebih menjunjung nilai-nilai luhur dalam manusia akan sangat terlihat dalam pemaknaan personal terhadap ruangnya. Sehingga pemaknaan “aku” dan orang lain akan menjadi kesan seperti yang digambarkan rasulullah
antara muslim dengan muslim yang lain seperti satu bangunan yang saling mengokohkan antara yang satu dengan yang lain.” (HR. Bukhori)
perumpamaan kaum mukminijn dalam cinta kasih dan menyayangi mereka seperti satu jasad, jika ada satu anggota tubuh ada yang sakit,maka seluruh tubuh akan menggigil karena demam.” ( HR. Muslim).
Korelasi antar ruang dengan ruang personal akan membuat “modus kebersamaan” menjadi lebih bermakna, Suatu proses melihat yang tidak ada keraguannya  untuk melihat suatu yang hakiki, melihat yang rahmatan lil alamin. Wallahu alam bishawab.

Ruang Personal dan Perbedaan Budaya
Dalam eksperimen Waston & Graves (dalam Gifford, 1987), yang mengadakan studi perbedaan budaya secara terinci, mereka menggunakan sampel kelompok siswa yang terdiri dari empat orang yang &mint:: dztang ke laboratorium. Siswa-siswa ini diberitahu bahwa mereka &an diamati, tetapi tanpa diberi petunjuk atau perintah. Kelompok pertarna terdiri dari orang-orang Arab dan kelcmpok lainnya terdiri dari orang Amerika. Rerata jarak interpersonal yang dipakai orang Arab kira-kira sepanjang dari perpanjangan tangannya. Sedangkan jarak interpersonal orang Amerika terlihat lebih jauh. Orang-orang Arab menyentuh satu sama lain lebih sering dan orientasinya lebih langsung. Umumnya orang Arab lebih dekat daripada orang Amerika.
Menurut Hall norma dan adat istiadat dari kelompok budaya dan etnik yang berbeda akan tercermin dari penggunaan ruangnya, seperti susunan perabot, konfigurasi tempat tinggal dan orientasi yang dijaga oleh individu yang satu dengan individu yang lainnya. Hall menggambarkan bagaimana anggota dari bermacam-macam kelompok budaya tersebut memiliki kebiasaan spasial yang berbeda. Orang Jerman lebih sensitif terhadap gangguan , memilik gelembung ruang personal lebih besar , dan lebih khawatir akan pemisahan fisik ketimbang orang Amerika. Sementara itu orang Inggris merupakan orang-orang pribadi. Akan tetapi mereka mengatur jarak psikologis dengan orang lain dengan menggunakan sarana-sarana verbal dan non-verbal dibandingkan sarana fisik atau lingkungan.
Hall (dalam Altman, 1976) menggambarkan bahwa kebudayaan Arab memiliki pengindraan yang tinggi, di mana orang-orang berinteraksi dengan sangat dekat: hidung ke hidung, menghembuskan napas di muka orang lain, bersentuhan dan sebagainya. Kebudayaan Arab (juga Mediterania dan Latin) cenderung berorientasi kepada “kontak” dibandingkan dengan Eropa Utara dan Kebudayaan Barat. Jarak yang dekat dan isyarat-isyarat sentuhan, penciuman, dan panas tubuh tampaknya merupakan ha1 yang lazim dalam “budaya kontak”.
Hall (dalam Altman, 1976) juga mengamati bahwa orang-orang Jepang menggunakan ruang secara teliti. Hal diduga merupakan respon terhadat populasi yang padat. Keluarga-keluarga Jepang memiliki banyak kontak interpersonal yang dekat; seringkali tidur bersamasarna dalam suatu ruangan dengan susunan yang tidak beraturan atau melakukan berbagai aktivitas dalarn mang yang sama. Pengaturan taman, pemandangan dam, dan bengkel kerja merupakan bentuk dari kreativitas dengan tingkat perkembangan yang tinggi yang saling pengaruh-mempengaruhi di antarasemuarasa yang ada, rnenunjukkan pentingnya hubungan antara manusia dengan lingkungannya.

Variasi budaya dalam komunikasi nonverbal

Budaya asal seseorang amat menentukan bagaimana orang tersebut berkomunikasi secara nonverbal. Perbedaan ini dapat meliputi perbedaan budaya Barat-Timur, budaya konteks tinggi dan konteks rendah, bahasa, dsb. Contohnya, orang dari budaya Oriental cenderung menghindari kontak mata langsung, sedangkan orang Timur Tengah, India dan Amerika Serikat biasanya menganggap kontak mata penting untuk menunjukkan keterpercayaan, dan orang yang menghindari kontak mata dianggap tidak dapat dipercaya.




SUMBER:
http://elearning.gunadarma.ac.id/, diakses 17 maret 2011 pukul 15.46
http://webcache.googleusercontent.com, diakses 17 maret 2011 pukul 15.46
http://docs.google.com,
diakses 17 maret 2011 pukul 15.46
Septiaji W./berbagai sumber,(Dalam http://bismillah444000.blog.friendster.com/2008/02/ruangruang-personal-dan-modus-kebersamaan/), diakses 17 maret 2011 pukul 15.46
http://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi_nonverbal, diakses 17 maret 2011 pukul 15.46









Tidak ada komentar:

Posting Komentar